Benteng Rotterdam - Wisata Sulawesi

Siapa yang tidak mengenal Indonesia akan ribuan peninggalan sejarahnya ? Berkat bangsa asing yang menjajah Indonesia begitu lamanya, masyarakat Indonesia dapat menikmati peninggalan-peninggalan tersebut sebagai objek wisata, seperti Fort Rotterdam yang berada di kota Makassar yang akan kita bahas lebih jauh. Ada juga digunakan masyarakat sebagai objek religius, seperti Candi Borobudur (Magelang) yang digunakan oleh masyarakat beragama Buddha. Dengan adanya peninggalan-peninggalan ini, tanpa disadari dapat digunakan masyarakat sekitar peninggalan sebagai mata pencaharian sehari-hari dan tidak disengaja akan menambah kas negara. Kita sebagai masyarakat yang pintar, yang mencintai lingkungan, yang telah lama diajarkan kepada kita semenjak dibangku sekolah, patutlah kita menjaga, membersihkan, dan merawat peninggalan sejarah ini. Kelak suatu saat generasi yang akan datang, anak cucu kita dapat mengetahui dan menikmati peninggalan-peninggalan ini. Jadi tidak ada salahnya jika kita mengaplikasikan sikap-sikap ini.


Benteng, salah satu peninggalan sejarah yang banyak berdiri kokoh di negeri tercinta ini, dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka. Benteng kala itu digunakan untuk melindungi kerajaan-kerajaan dari serangan musuh, bahkan digunakan sebagai tempat penampungan rempah-rempah. Indonesia pada masa itu bukanlah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita kenal sekarang. Kerajaan-kerajaan ini berasal dari India yang beragama Hindu/Buddha yang datang bermukim di Nusantara (sebutan Indonesia pada zaman kerajaan Majapahit). Setelah Hindu/Buddha masuk di Nusantara, agama Islam melalui pedagang Gujarat, India masuk dan tersebar hingga ke seluruh Nusantara. Islam melalui kesultanan juga mendirikan benteng untuk melindungi dari serangan bangsa asing. Satu dari banyaknya situs sejarah di Indonesia adalah Fort Rotterdam.

Fort Rotterdam sudah tidak asing lagi bagi penduduk Sulawesi Selatan. Benteng Ujung Pandang, nama lain dari Fort Rotterdam. Berada dekat pesisir pantai pusat kota Makassar. Lokasinya yang terletak dekat dengan Pantai Losari dan Pelabuhan Soekarno-Hatta. Di sekitar benteng, Anda dapat menjumpai banyak kios yang menjual aneka minuman dingin, seperti es teler, es buah, pisang ijo (makanan khas kota Makassar), dan lain-lain. Harganya pun ramah di kantong. Kisaran Rp.5.000 sampai dengan Rp.10.000 per porsi. Di depan benteng ini, dengan berjalan kaki saja, Anda dapat juga mengunjungi tempat persinggahan kapal kecil yang dimana dapat membawa Anda ke Pulau Kayangan ataupun ke pulau lain. Untuk menyeberang pulau, Anda wajib menyewa kapal. Tentunya Anda harus pergi beserta rombongan Anda agar lebih murah

Benteng ini adalah peninggalan dari kerajaan Gowa-Tallo. Banyak cerita sehingga Benteng ini dapat berdiri kokoh. Raja Gowa ke-9, I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna, beliaulah yang mendirikan benteng ini yang kemudian melalui perjanjian Bungayya, Kerajaan Gowa wajib menyerahkan benteng ini kepada pihak Belanda yang kemudian oleh Belanda diberi nama Fort Rotterdam hingga sekarang. Ketika Belanda mengambilalih benteng ini, benteng ini digunakan Belanda sebagai tempat penampungan rempah-rempah. Dengan adanya campurtangan Belanda ini, maka benteng ini memiliki corak yang unik yang menambah daya tarik tersendiri.


Benteng ini pada mulanya berbahan dasar tanah liat. Ketika Sultan Alauddin menjabat sebagai Raja Gowa ke-14, ia mengganti tanah liat dengan batu padas yang diambil dari Pegunungan Karst yang dapat dijumpai di sekitar Maros. Sultan Alauddin mengubah konstruksinya tetapi tidak merubah bentuk benteng ini. Bentuk benteng ini jika diliat dari ketinggian seperti penyu yang merangkak ke lautan. Penyu dijadikan bentuk benteng dikarenakan penyu dapat hidup di darat ataupun di air. Begitu juga Kerajaan Gowa, yang Berjaya di daratan atau di perairan
Di dalam benteng ini, Anda dapat memasuki sebuah ruangan yang disebut Museum La Galigo, yang menyimpan benda-benda antik dan peninggalan sejarah lainnya. Tetapi untuk memasuki ruangan ini, Anda dikenakan tarif Rp.20.000/orang. Cukup terjangkau untuk melihat-lihat benda bersejarah peninggalan kerajaan Gowa-Tallo. Setelah memasuki ruangan ini, Anda dapat menikmati hijaunya rerumputan di halaman benteng ini. Anda dapat melihat gedung-gedung tinggi kota Makassar pada sudut Benteng. Sudut Benteng merupakan salah satu titik yang banyak dikunjungi pengunjung. Disana Anda dapat mengambil foto, bersantai, menikmati sejuknya udara sepoi-sepoi. Ini adalah salah satu tempat wisata Anda ketika ingin bersantai sejenak dari kegiatan sehari-hari Anda.

https://www.google.co.id/image

Anda dapat mengajak keluarga, teman terdekat, rekan sekerja Anda, atau siapa saja untuk datang dan mengenalkan Fort Rotterdam. Fort Rotterdam ini untuk umum dan terbuka tiap hari, dari pagi hingga menjelang malam hari. Kadang kala dikunjungi oleh anak sekolah yang sedang melakukan Study Tour. Turis dari mancanegara sering mengunjungi dan melihat-lihat benteng ini. Objek wisata yang satu ini ramai dikunjungi pada hari Sabtu-Minggu dan hari libur. Jika mengunjungi situs peninggalan sejarah Gowa-Tallo ini, Anda hanya membayar seikhlasnya saja. Beruntungnya, pihak pengelola benteng ini mengizinkan para pengunjung membawa makanan dan minuman. Tetapi kita harus selalu ingat untuk menjaga kebersihan. Buanglah sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan. Jika Fort Rotterdam ini telah tercemar oleh sampah-sampah akibat ulah kita sebagai pengunjung yang tidak peduli dan sadar akan kebersihan, tidak menuntut kemungkinan objek wisata yang satu ini akan menjadi kotor dan rusak. Apakah kita tidak malu ketika turis-turis asing datang dan melihat betapa kotornya Fort Rotterdam ini ? Kotor akibat sampah yang seharusnya terbuang pada tempatnya. Pemerintah kota Makassar juga patut mengambil bagian dalam melestarikan situs sejarah ini. Tetapi kitalah, diri kita sendiri yang terutama dalam menjaga kebersihan Fort Rotterdam. Kalau bukan kita, siapa lagi

William Immanuel Martin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here